99,90% Siswa Lulus UN

Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan (SMA/SMK) tahun 2011-2012 di Jawa Barat mencapai 99,90 persen. Dari 357.185 peserta UN SMA dan SMK, hanya 157 siswa yang dinyatakan tidak lulus UN.
"Sekalipun jumlah persentase kelulusan ini sudah pasti, namun bisa saja berubah. Pasalnya, ada sekitar 30 sekolah di Jabar yang nilai UN-nya masih bermasalah dan bolong," ungkap Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Prof. Dr. Wahyudin Zarkasyi didampingi Kepala Balai Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Kejuruan (BPPTKPK), Drs. Yesa Sarwedhi di kantor BPPTKPK, Jln. Cikutra Bandung, Kamis (24/5).

Wahyudin menyebutkan, tingkat kelulusan SMA dan SMK di Jabar untuk tahun ini secara keseluruhan sedikit turun. Tahun lalu, tingkat kelulusan mencapai 99,93 persen dari 189.588 peserta. "Secara nasional pun, tingkat kelulusan mengalami penurunan," tandasnya.

Dikatakan Wahyudin, berdasarkan data dari Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik), untuk tingkat SMK persentase kelulusan mencapai 99,97 persen. Sebanyak 53 siswa di antaranya tidak lulus dari total peserta UN SMK 199.499 siswa. Sedangkan untuk tingkat SMA persentase kelulusan mencapai 99,94 persen. Sebanyak 100 siswa dinyatakan tidak lulus dari total peserta UN SMA 157.686. Terakhir, untuk tingkat MA persentase kelulusan mencapai 99,74 persen. Sebanyak 103 siswa tidak lulus dari total peserta UN MA 40.378 siswa. 

"Untuk tingkat SMA, kelulusan mengalami penurunan. Tahun lalu 99,98 persen dan tahun 2012 99,94 persen. Sementara untuk tingkat SMK mengalami kenaikan, dari tahun kemarin 99,86 persen menjadi 99,97 persen. Begitu pun untuk tingkat MA mengalami penurunan yang cukup jauh, dari 99,93 persen tahun lalu menjadi 99,74 persen tahun sekarang. Dulu yang tidak lulus hanya 26 siswa MA, sekarang 103 siswa," ujarnya.

Peringkat

Sementara mengenai peringkat tertinggi maupun terendan kelulusan UN untuk kabupaten/kota, Yesa Sarwedhi tidak bisa menyebutkannya. Dikatakan, Kadisdik Jabar meminta jangan dulu diumumkan mana daerah yang tertinggi dan yang terendah kelulusannya untuk menjaga nama baik pemerintah daerah.

"Nantilah, setelah data semua peserta UN diserahkan dan diambil pemerintah daerah, baru kami umumkan," katanya. 

Saat ini (malam tadi, red), katanya, Disdik Jabar tengah mem-print out daftar hasil ujian nasional (DKHUN) untuk dibagikan ke kabupaten/kota. Hal ini dilakukan, agar pemerintah kabupaten/kota tinggal mengambil hardcopy dan softcopy-nya langsung," ujarnya.

Berdasarkan data dari Kemendikbud, data kelulusan SMA tahun 2012 ini, Jatim adalah provinsi dengan tingkat kelulusan terbaik. Sementara DKI Jakarta berada di urutan 13 tingkat kelulusan terbaik dari 33 provinsi di Indonesia. Persentase tidak lulus siswa SMA di DKI tercatat 0,38 persen. Artinya 207 dari 54.615 siswa tidak lulus SMA tahun ini.

Jatim adalah provinsi terbaik karena mencatat persentase ketidaklulusan paling sedikit. Dari 210.586 siswa SMA, yang tidak lulus 256 orang, atau persentasenya adalah 0,07 persen. Disusul Sulawesi Utara (0,09 persen), Bali (0,10 persen), Jawa Barat (0,10 persen), dan Sumatera Utara (0,12 persen).

Provinsi yang mencatat persentase ketidaklulusan siswa SMA terbanyak adalah NTT (5,50 persen), Gorontalo (4,24 persen), Papua Barat (2,42 persen), dan Kalimantan Barat (1,49 persen).

Pada kesempatan itu, Yesa pun menyebutkan, pengumuman kelulusan UN ini merupakan hasil minimal. Maksudnya, hasil ini kemungkinan akan naik, karena si operator salah ketik angka. Hal ini akibat banyaknya nilai yang harus dimasukkan untuk kelulusan ini, mulai dari nilai UN berikut rata-ratanya, nilai ujian sekolah, nilai rapor enam semester, dan sebagainya.

"Karena itu, pemerintah pusat memberi waktu untuk klarifikasi oleh pihak sekolah yang dialamatkan ke disdik kabupaten/kota, kemudian disdik provinsi dan dilanjutkan ke pusat. Klarifikasi harus disertai data-data otentik tentang si peserta yang dinyatakan tidak lulus tersebut," paparnya. 

Meningkat

Ketua Komisi E DPRD Jawa Barat, Didin Supriadin mengharapkan kelulusan UN untuk tingkat SD hingga SMA sederajat di Jabar meningkat dibandingkan dengan tahun lalu. Bahkan, peringkat kelulusannya harus tertinggi dibandingkan dengan provinsi lain. 

"Tentunya kita berharap kelulusan UN di semua level pendidikan di wilayah Jabar tertinggi dibanding dengan provinsi lain. Misalnya, untuk SD, UN SD yang paling tertinggi itu kan diraih oleh Provinsi Bali. Kalau tidak salah peringkat masih berada di bawah. Saya berharap, yang sekarang bisa lebih baik lagi dari tahun kemarin," kata Didin di Gedung DPRD Jabar, Jln. Diponegoro, Bandung, Kamis (24/5).

Seperti diberitakan, larangan ini pun sudah diimbau Dinas Pendidikan Kota Bandung. Pihaknya melarang peserta UN tahun 2012 melakukan konvoi kendaraan bermotor hingga aksi vandalisme (corat-coret), saat pengumuman kelulusan UN tingkat SMA/SMK/MA, yang diperkirakan Jumat (25/5) atau Sabtu (26/5).

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Oji Mahroji mengatakan, pengumuman kelulusan biasanya dilakukan pihak sekolah melalui surat via kantor pos dan giro. "Sehingga lebih baik para siswa menunggu di rumah saja, tidak perlu datang ke sekolah," ujarnya. 

Cegah aksi

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bandung mengimbau kepada setiap SMA/SMK untuk berkoordinasi dengan polsek setempat, dalam rangka mencegah terjadinya aksi corat-coret, dan segala bentuk tindakan yang mengarah kepada gangguan ketertiban pasca pengumuman hasil UN, Sabtu (26/5). Imbauan disampaikan pula kepada para siswa untuk menghindari pengonsentrasian (berkumpul, red) di luar sekolah.

Demikian disampaikan Sekretaris Disdikbud Kabupaten Bandung, Agus Firman di Soreang, Kamis (24/5). Koordinasi dengan aparat keamanan di tiap kecamatan diharapkan mampu mengeliminasi tindakan yang mengarah kepada aksi berlebihan.

"Sekalipun pengumuman kelulusan lewat pos, tetap saja bakal terjadi pengonsentrasian para siswa di satu tempat. Disdikbud menyarankan supaya titik kumpulnya cukup di sekolah. Masalahnya kalau dilakukan di luar lingkungan sekolah, bakal menimbulkan gesekan-gesekan yang tidak diinginkan. Bahkan tidak menutup kemungkinan bisa sampai mengganggu ketertiban umum," kata Agus Firman.

Oleh karena itulah, lanjutnya, pihak sekolah harus bisa menjalin koordinasi yang baik dengan aparat keamanan setempat. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, koordinasi yang dibangun mampu menekan terjadinya aksi berlebihan dari siswa yang merayakan kelulusan.

Ia tidak memungkiri, akibat meluapkan kegembiraan berlebihan malah menimbulkan ekses negatif. Hal itu bisa terjadi apabila siswa merayakan kelulusan di luar lingkungan sekolah.

Sumber : www.klik-galamedia.com