Pelatihan Menulis di SMAN 1 Batujajar

Kamis, 28 Maret 2013 pukul sembilan pagi, suasana sekolah SMAN 1 Batujajar di Kabupaten Bandung Barat ini terasa lain. Di tengah suasana pagi yang cerah, kegiatan pelatihan menulis rupanya cukup antusias diikuti oleh para siswa. Tercatat lebih dari delapan puluh siswa mengikuti kegiatan ini. Kegiatan yang digagas oleh ekskul Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMAN Batujajar ini merupakan kerja sama dengan Mitra Baraya divisi pemberdayaan pelatihan penulisan. Adapun tema utama yang disajikan dalam pelatihan kali ini mengenai penulisan karya ilmiah. 
Acara dibuka oleh Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum dan kemudian masuk ke acara utama yang dipandu oleh Guru Ekonomi, Bapak Iwan Rudi Setiawan. Dengan bantuan proyektor, bahasan pelatihan mengenai penulisan ini disajikan dalam bentuk slide Power Point. Aminudin, sebagai pemberi materi menyajikan seputar dunia penulisan. Adapun tema yang diangkat adalah Scribo Ergo Sum, 'Saya Menulis maka Saya Ada'. Penitikberatan masalah penulisan diawali dengan pemahaman akan manfaat karya tulis ilmiah bagi remaja, khususnya siswa SMA. Sudah menjadi realita umum bahwa para siswa menengah kebanyakan lebih memilih "menekuni" dunia menulis di dunia jejaring sosial atau di handphone dalam bentuk status-status setiap harinya. Padahal, dengan adanya media teknologi informasi semacam ini, secara tidak sadar, budaya menulis di kalangan remaja sudah dimulai. 
Adapun menyangkut karya ilmiah, salah satu jenis karya tulis ini hendaknya dibudayakan dalam kehidupan siswa. Ini bisa menjadi bekal para siswa di kemudian hari. Misalnya, saat memasuki jenjang mengarungi ilmu di dunia kuliah nanti. Adapun untuk dunia SMA sendiri, karya tulis ilmiah sebenarnya bukan saja identik dengan ekskul KIR. Siswa dapat memanfaatkan keterampilan menulis karya ilmiah ini untuk mendukung semua mata pelajaran. Tugas-tugas di sekolah yang diberikan guru hendaknya mampu memancing siswa dalam menulis. Bisa saja nanti karya tulis siswa diterbitkan dalam bentuk buku, media blog atau website, buletin sekolah, atau majalah (dinding) sekolah. Ini tentang bagaimana kemauan pihak siswa sendiri yang nantinya difasilitasi oleh pihak pengurus sekolah.
Segmen yang paling ditekankan dalam pelatihan kali ini adalah menyangkut menciptakan suasana dalam kehidupan sehari-hari untuk menulisa. Pembicara memaparkan apa saja biasanya yang menjadi "penyakit" seseorang dalam menulis. Kemudian, manfaat apa saja yang bisa didapatkan dengan menekuni dunia menulis itu. Untuk karya ilmiah, bagaimana siswa dapat mengembangkan budaya riset di lingkungan sendiri dengan berbasis ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah. Pembicara juga menekankan bahwa teori menulis yang baik adalah praktik langsung menulis. Adapun teori-teori merupakan bagian dari menggali potensi. Apalagi dengan adanya sharing pengalaman dari orang lain yang sudah biasa atau ahli dalam dunia menulis. Sehubungan dengan karya tulis juga, perlu diciptakan lingkungan sekolah berbasis kesadaran menulis bagi siswa atau guru. Siswa dapat membentuk komunitas penulisan di sekolahnya kemudian bekerja sama dengan pihak luar sekolah untuk mendapatkan ilmu. Ini bisa dari komunitas lain yang independen, wartawan, novelis, dll. 
Mutu suatu sekolah sebetulnya bisa dinilai dari aktivitas menulis yang dilakukan oleh masyarakat sekolah itu sendiri. Misalnya, jika guru atau siswa bisa menghasilkan karya tulis dan diterbitkan, ini bisa mengangkat nama sekolah. Apalagi sekarang zaman komputer/internet, sumber berita dan proses menerbitkan karya bisa lebih mudah disebarkan. Proses berkarya bisa dibilang percuma jika hanya berkutat pada masalah teori. Media untuk mempublikasikan karya sangatlah penting. Karya yang dihasilkan bisa diterbitkan oleh penerbit, dimuat di media massa, atau pihak sekolah/siswa sendiri membuat media massa yang diterbitkan secara swakelola. Ini tinggal bagaimana mengarahkan dan mengemas paduan antara hasil karya tulis dengan pembentukan media di sekolah. Begitu pula dengan "amunisi" untuk menulis, yaitu pembiasaan membaca di kalangan siswa sebagai sumber referensi dalam menulis. Ini menjadi syarat pokok.
Sebelum acara yang ditutup setelah adzan dzuhur ini, diadakan tanya jawab dan pembagian hadiah oleh pihak panitia dan pemateri. Para peserta mengeluarkan unek-uneknya seputar penulisan yang dijawab oleh pihak pemateri. Kesimpulan yang didapatkan adalah para siswa sebetulnya punya segudang potensi untuk diledakkan dalam dunia penulisan ini. Mereka ternyata banyak yang antusias untuk segera menulis. Ini baru langkah awal, mungkin ke depannya bisa ditindaklanjuti dengan adanya workhshop penulisan; pembuatan media massa internal di sekolah; pengadaan lomba menulis di sekolah; pelatihan menulis untuk guru; dan juga tentunya diharapkan budaya menulis dapat dijadikan suatu kebiasaan di SMAN 1 Batujajar ini. Tentunya pula menulis adalah proses, sebuah karya lahir dengan adanya proses pembiasaan dan pemahaman. Hal ini sesuai dengan konsep tema yang diusung: scribo ergo sum. Maka, dalam menulis ada tiga hal pokok yang perlu dimaknai: berpikir-berkarya-berbagi
http://www.mitrabaraya.com