Taufiq Ismail: Pengajaran Sastra Harus Harus Menyenangkan

Bogor --- Sastrawan besar Indonesia, Taufiq Ismail, mengungkapkan bahwa pengajaran sastra harus mengedepankan aspek menyenangkan dan gembira. "Sastra itu harus nikmat, menyenangkan, dan gembira," ujarnya. Guru harus mampu membentuk citra sastra di hati siswa sebagai sesuatu yang menyenangkan. Membuat mereka antusias kemudian mereka merasa itu diperlukan. Hal tersebut diungkapkan Taufiq Ismail usai menyampaikan materi dalam acara Lokakarya Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS) di Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/9) yang lalu.

Caranya, saat mengajar sastra tidak memakai pendekatan keilmuan seperti memahami fisika dan pendekatan hafalan. Taufiq Ismail berharap guru mendukung cara pandang baru dalam pengajaran sastra berkaitan dengan dua hal pokok, yaitu kecintaan membaca buku dan membangun kemampuan menulis karangan. "Karena itu dalam hal ini mereka harus punya kemampuan untuk membimbing siswa memasuki sastra secara asyik, nikmat, dan gembira," ujarnya.

Sehingga menurutnya, cara lama seperti pendekatan keilmuan untuk memahami fisika, pendekatan hafalan seperti penghafalan sejarah, tidak dapat dipakai. Ada enam cara pandang baru yang telah dirumuskan Taufiq Ismail, yang diharapkan menjadi acuan dalam memperbaiki pengajaran membaca, mengarang, dan apresiasi sastra di sekolah.

Pertama, siswa dibimbing memasuki sastra secara asyik, nikmat, dan gembira. Kedua, siswa membaca langsung karya sastra puisi, cerita pendek, novel, drama dan esai, bukan melalui ringkasan. Ketiga, kelas mengarang harus diselenggarakan secara menyenangkan, sehingga tidak terasa jadi beban, baik bagi siswa maupun guru. Keempat, ketika membicarakan karya sastra, aneka ragam tafsir harus dihargai. Kelima, pengetahuan tentang sastra (teori, definisi, sejarah) tidak utama dalam pengajaran sastra di SMA, cukup tersambil saja sebagai informasi sekunder ketika membicarakan karya sastra. Keenam, pengajaran sastra mestilah menyemaikan nilai-nilai yang positif pada batin siswa, yang membekalinya menghadapi kenyataan kehidupan masa kini yang keras di masyarakat.

Berkaitan dengan pengajaran sastra di Sekolah Dasar, pendekatan yang diterapkan kepada siswa tentu berbeda namun prinsipnya tetap sama. Pemahaman sastra dalam tataran SD pun tak sebagaimana yang dipahami umum. Karya sastra di tataran SD mencakup hikayat, dongeng, dan amsal. "Tentunya sangat ringan tetapi dibuat sedemikian menarik, jangan seperti nasihat-nasihat yang membosankan," tegas penulis buku 'Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit' tersebut.
(NW, sumber: dikdas.kemdikbud.go.id)